Movie,  Review

Captain Fantastic (2016)

Film Captain Fantastic yang disutradarai oleh Matt Ross ini merupakan film yang terlihat “aneh”, tapi diam-diam membawa unsur yang sangat manusiawi dan menusuk. Bayangkan saja, selama kurang lebih 118 menit, kita akan melihat Viggo Mortensen sebagai tokoh utama bernama Ben Cash berperan sebagai seorang ayah yang sangat berbeda dari standar moral kaum urban. Ben sebagai seorang ayah, ia membesarkan keenam anaknya di tengah hutan, jauh dari sistem modern, tanpa sekolah formal, tanpa televisi, tanpa konsumerisme. Ia mengganti hal itu semua dengan mewajibkan anak-anaknya mengkonsumsi buku filsafat, latihan fisik ekstrem, dan diskusi kritis tentang dunia.

Bayangin aja, kita hidup di tengah hutan belantara, bangun pagi bukannya asik buat scroll HP tapi malah panjat tebing. Selain itu ketika kita sarapan, kita juga sambil berdiskusi tentang ide-ide Karl Marx. Lalu pas ulang tahun, bukannya kita merayakan dengan menikmati kue ulang tahun, tapi kita malah berdebat soal konstitusi. Itulah gambaran dunia Ben Cash dan keenam anaknya.

Ben percaya satu hal, “Anak-anaknya harus tumbuh kuat secara fisik, cerdas secara intelektual, dan bebas dari kebodohan sistem modern”. Dan jujur aja, di awal film, Kita mungkin akan berpikir, “Wah, ayahnya keren juga, ya”. Film ini diawal memang menunjukkan kritik secara tajam akan kurikulum pendidikan yang mainstream. Captain Fantastic pada dasarnya tidak berdiri di satu kubu saja. Film ini tidak sepenuhnya memuja tentang hidup anti-sistem, tapi juga tidak memuliakan sistem modern yang ada.

Di film ini kita diajak untuk bertanya-tanya, Apakah pendidikan formal selalu lebih baik? Apakah kebebasan tanpa struktur itu sehat? Apakah niat baik selalu menghasilkan dampak baik? Dan yang membuat film ini lebih menarik, semua pertanyaan tersebut tidak terjawab secara pasti di dalam film ini. Ini lah yang membuat film ini begitu bagus dalam sisi ceritanya. Selain itu, Viggo sebagai Ben begitu ciamik memerankan seorang ayah yang karismatik, keras kepala, penuh kasih, tapi juga rapuh. Ia membuat penonton simpati sekaligus tidak sepenuhnya setuju dengannya. Ia sangat mencintai anak-anaknya, tapi di saat yang sama kita juga akan melihat egonya yang besar. Ben bukanlah ayah yang jahat dan sempurna, ia hanyalah ayah yang terlalu percaya pada pikirannya sendiri.

Captain Fantastic bukan film tentang keluarga “aneh”. Ini film tentang keluarga yang terlalu yakin bahwa cara mereka adalah yang paling benar, sampai hidup mulai menampar pelan-pelan. Konflik dimulai ketika keluarga ini harus kembali ke “dunia nyata” untuk menghadiri pemakaman ibu mereka. Perjalanan darat ini menjadi benturan keras antara idealisme ekstrem Ben dan realitas sosial yang tak bisa dihindari.

Ketika mereka ‘turun gunung’, terlihat sekali momen-momen lucu yang menggelik. Lebih tepatnya lucu yang bersifat canggung. Banyak hal yang lucu yang terjadi di salah tempat karena ketidaksingkronan cara hidup. Di balik tawa kelucuan film ini, terdapat beberapa momen sunyi yang akan membuat kita berpikir, apa anak-anak ini benar-benar bahagia? atau cuma terlatih untuk selalu terlihat kuat? Terkhususnya soal ibu yang telah tiada dan luka yang tidak pernah benar-benar dibicarakan.

Film ini sama sekali tidak mengajak kita untuk tinggal di hutan dan mengisolasi diri kita di sana. Film ini juga tidak secara lugas mengatakan bahwa sistem modern yang kita jalani ini itu selalu benar. Film ini mengajak kita sebagai penonton untuk selalu berpikir kritis dan mampu menjadi pribadi yang bertanggung jawab atas diri sendiri. Film ini sangat layak ditonton, terutama jika kita tertarik dengan isu pendidikan, keluarga, dan konflik antara idealisme dan realitas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *