Opini

Takjil dan Eksistensi

Saat ini, kita sedang berada di bulan yang paling mulia di antara seluruh bulan yang sudah disediakan Tuhan kepada hamba-Nya. Ramadan, merupakan bulan mulia itu karena di dalamnya Tuhan memberikan segudang privilege kepada hambanya yang tidak Ia berikan di bulan lainnya. Privilege itu dapat berupa ampunan yang tiada batas akan segala dosa yang diakui, hingga pelipatan ganda seluruh kebaikan yang dilakukan hamba-Nya.

Seluruh umat muslim di dunia ini sangat mengetahui akan privilege ini. Tidak jarang kita menemukan bahwa setiap kaum muslim berlomba-lomba memohon ampun dan berbuat kebajikan kepada sesama di bulan ini. Mungkin, yang dapat sekali terlihat oleh mata kita adalah rasa semangat kaum muslim dalam melaksanakan kebajikan, baik itu menjadi rajin salat, zikir, hingga berbagi kebahagiaan kepada sesama melalui pembagian takjil di waktu menjelang berbuka puasa.

Takjil dalam Realitas

Takjil adalah sebuah istilah yang digunakan oleh masyarakat Indonesia untuk menyebut sebuah menu atau hidangan pembatal puasa ketika magrib tiba. Secara epistimologi, makna takjil sangatlah jauh dari apa yang dipahami masyarakat kita. Takjil itu memiliki makna menyegerakan berbuka puasa. Secara makna, jauh api dari panggangnya.

Berderma dengan berbagi takjil memang semakin ramai sejak media sosial merajai ranah sosial manusia. Melalui konsep “fastabiqul khoirot”, semua umat muslim berlomba-lomba untuk berbagi di bulan puasa ini. Terlebih lagi rasa semangat itu diberikan katalis akan konsep pahala yang luar biasa. Nabi pernah mengabarkan apabila kita memberikan makan orang yang berpuasa, maka kita akan mendapatkan pahala dari orang yang berpuasa tersebut sama rata tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut. Melalui katalis inilah kita semakin marak umat muslim yang ingin berbagi takjil di bulan suci ini.

Bias Eksistensi

Media sosial memiliki peranan penting dalam membangkitkan semangat berderma di tengah masyarakat. Banyak sekali masyarakat yang terketuk hatinya untuk berbagi hanya karena melihat sebuah postingan dari rekan sejawat ataupun orang lain di media sosial. Dari sana lah muncul semangat berbagi dalam bulan puasa ini. Kita akan mendapatkan siklus yang sama, mereka yang berbagi akan melakukan “kampanye” terbuka akan amalan tersebut. Kemudian nantinya akan muncul gerakan serupa yang lebih besar dan besar lagi. Ketika gerakan berbagi ini semakin membesar, maka akan muncul penyakit yang diberi nama eksistensi.

Eksistensi ini nantinya hadir hanya didasari atas rasa fomo, ikut-ikutan saja. Kampanye yang diawal diniatkan untuk mengajak berbagi kebahagiaan untuk mendapatkan keberkahan, akan rusak oleh sebuah ego yang ingin tampil unjuk bagian dalam sebuah realitas yang terbentuk. Eksistensi ini memang bagaikan pisau yang dapat melukai tangan tuannya. Maka dari itu, menjaga esensi dari sebuah amal kebaikan akan menjadi pekerjaan rumah besar jika budaya berbagi ini sudah membumi di negeri kita tercinta ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *