Islam dan Teologi Pembebasan
Judul : Islam dan Teologi Pembebasan
Judul Asli : Islam and Its Relevance to Our Age
Pengarang : Asghar Ali Enginner
Penerbit : LkiS Yogyakarta
Tahun : 1993
Cetakan : 5
Kategori : Religius
Jumlah Halaman : xvi + 156 hal
Harga : Rp. 35.000,-
ISBN : 979-25-5249-9
Islam dan Pembebasan ini merupakan buku terjemahan dari Islam and Its Relevance to Our Age karya Ashgar Ali Engineer. Pembahasan dalam buku ini dimulai dengan hubungan antara Islam dengan sejarah, Negara, filsafat, ekonomi dan politik, dan diakhiri dengan sebuah pernyataan sikap atau sebuah kesimpulan yang tertuang dalam bab Islam dan Pembebasan.
Setelah membaca buku ini, Ashgar membuka mata para pembacanya. Pertama, peran sejarah. Melalui pendekatan teologis, Al-Quran banyak memuat kisah-kisah sejarah, namun kausalitas tidaklah diabaikan begitu saja. Intinya: ‘Keadilan’ Allah pada suatu kaum atau seorang lalim, diberlakukan ketika mereka mengabaikan proses kausalitas sosial dan berbuat menyimpang, baik secara fisik (hukum alam) maupun mental (moral).
Kedua, berangkat dari titik ini, Ashgar Ali kemudian mencermati kenabian Nabi Muhammad, bahwa Nabi Muhammad tidak pernah berkeinginan untuk memutar balikkan roda sejarah. Ia mengecam praktik riba yang ekploitatif, namun sama sekali tidak mengharamkan laba yang diperlukan dalam perdagangan. Hanya saja, ia memberi batasan-batasan tertentu untuk menghilangkan praktik-praktik pemerasan dan penghisapan yang dilakukan oleh para kapitalis serakah dan bosok.
Kenapa? Karena ketika menghilangkan sama sekali laba, maka akan membuat surut masyarakat komersial yang sedang berkembang. Karena itu, Ketiga, Ashgar mencatat bahwa kaum hartawan Makkah – yang dikenal sebagai kota perdagangan – bukan tidak mau menerima ajaran Nabi dalam hal tauhid karena hal itu tak begitu merisaukan mereka.
Namun, yang merisaukan mereka adalah implikasi-implikasi sosial-ekonomi risalah Nabi. Ditegaskan pula dalam Alquran, salat tidak pernah disebut tanpa diiringi dengan zakat. Zakat itu kemudian dikumpulkan untuk distribusi kekayaan kepada fakir-miskin, atau yang paling terlihat pada zaman itu adalah membebaskan perbudakan.
Keempat, ternyata, selain mendakwahkan cita-cita keislaman, Nabi juga tidak pernah mengabaikan konsteks situasinya, dan sebenarnya itulah, yang menurut Ashgar, menjadi rahasia keberhasilan Nabi. Misalnya, Nabi tidak berangkat dari pendekatan kelas karena pendekatan itu hampir-hampir tidak akan berfungsi dalam situasi sejarah berikutnya.
Perbudakan sangat dibenci Nabi, tapi tidak begitu saja langsung diperangi dan dihapus. Jalan yang ditempuh Nabi dalam memperjuangkannya lebih banyak dengan cara-cara gradual: yang paling kentara adalah dengan memberikan hak-hak budak yang terabaikan.
Keuggulan dari buku ini adalah mampu memberikan informasi tentang pernyataan dengan disertai sumber nilai dari dalil aqli (Al Qur’an) sehingga mudah bagi pembaca untuk memperoleh nilai tersebut karena disetiap penyataan pada prinsipnya tidak dapat dipisahkan dari sumber yang sudah diketahui kebenarannya salah satunya adalah Al Qur’an.
Kekurangan dalam buku ini adalah terdapat banyak kata yang sulit dipahami bagi tingkat pemula namun penulis mampu menjelaskan maksud dan arti kata tersebut dan dari segi bahasa, bahasa penulis dalam buku ini menggunakan bahasa yang komunikatif, baik, dan sopan sehingga pesan yang ingin disampaikan oleh penulis dapat dipahami oleh pembaca.
