Opini

Validasi Gender

Era Post-Modern saat ini kita diberikan fenomena yang membingungkan oleh budaya barat berupa macam-macam gender. Tidak hanya masyarakat timur yang merasakan kebingungan ini, masyarakat barat pun juga merasakan kebingungan yang serupa. Jika mengacu pada kacamata agama dan struktur sosial masyarakat, gender yang kita ketahui hanyalah dua saja, laki-laki dan perempuan. Namun saat ini, gender tidak hanya sebatas itu saja. Terlalu banyak dan membingungkan.

Di Indonesia ini pun, beberapa masyarakat sudah menjadi bagian dalam mengkampanyekan keberagaman gender. Tak jarang kita melihat laki-laki dan perempuan semakin lugas dan berani menunjukkan identitas yang berlawanan dari kodrat biologisnya. Contoh paling sederhana adalah ketika fomo fashion week ala-ala di Citayam. Di sana kita menemukan cukup banyak laki-laki gemulai yang cukup berani menanggalkan identitasnya kelakiannya dengan menggunakan pakaian perempuan.

Sepertinya, bermula dari sanalah eksistensi laki-laki yang merasa dirinya perempuan dan berpakaian perempuan diterima oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Pada dasarnya mereka yang berpakaian perempuan ini dari zaman orde baru sudah ada. Kita ambil contohnya adalah Tessy Srimulat, dia dikenal sebagai laki-laki yang berpakaian perempuan. Namun yang perlu digaris bawahi adalah identitasnya yang dikenal masyarakat melalui media dengan identitas aslinya berbeda.

Saat ini Indonesia digemparkan dengan berita tentang laki-laki yang berprofesi sebagai fashion stylist yang mengikuti pengajian Ustaz Hanan Attaki menggunakan pakaian perempuan. Tidak hanya itu, pakaian perempuan yang ia kenakan bukanlah hanya gamis dan kerudung semata, tetapi ia memakai cadar. Dalam struktur masyarakat islami, cadar merupakan kasta tertinggi seorang hamba perempuan dalam menjaga dirinya dari segala fitnah. Pelaku cadar merasa bahwa tubuhnya hanya boleh diakses oleh orang-orang yang berhak melihatnya. Mereka menggunakan cadar sebagai bentuk ketaatan mereka terhadap agamanya. Sayangnya, cadar saat ini sering kali digunakan untuk hal-hal yang kurang baik seperti crossdressing dan validasi gender yang terlampau menyesatkan.

Secara biologis, manusia hanya dibentuk dengan dua kromosom saja, xx dan xy, laki-laki dan perempuan. Lalu terdapat norma yang dibentuk masyarakat tentang pakaian yang memang seharusnya dikenakan oleh laki-laki dan perempuan. Di dalam agama pun juga sangat memperhatikan hal ini. Ada pula agama yang dengan lantang melaknat laki-laki yang berpakaian seperti perempuan.Namun, segala nilai yang ada ini tidak dilirik oleh mereka-mereka yang haus akan validasi gender yang membingungankan ini.

Jika kita menemukan kasus-kasus seperti itu di hidup kita, sikap yang paling sempurna adalah tidak memperkusi para pelaku dengan ucapan atau tindakan yang menyakiti. Merangkul adalah satu-satunya jalan terbaik dari pada memukul. Memberikan pengertian tentang nilai baik dan buruk tentang perilaku penyimpangan juga bisa menjadi salah satu opsi dalam dialog ini. Pertentangan argumentasi pastinya akan terjadi, karena sangat manusiawi sekali apabila seseorang tidak ingin dinasehati dan haus akan validasi atas eksistensinya. Dinamika seperti itu pastinya akan ada, maka tinggal kita saja yang harus bersikap lebih cerdas dan dewasa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *