Site icon Floksis

Pengepungan di Bukit Duri (2025)

Joko Anwar selaku sutradara dari film Pengepungan Bukit Duri kali bereksperimen menggunakan film yang terasa lebih dekat dan mengusik sanubari kita sebagai manusia. Yang biasanya ia membuat film horror dan fiksi supernatural, sekarang ia membuat film yang mengangkat isu sosial. Isu ini sangatlah nyata ada di masyarakat, tapi kita sering merasa bahwa isu ini tidak penting. Padahal, ketegangan dan gesekan akan isu ini kerap kali ditemukan di tengah masyarakat, yaitu isu rasis.

Film ini berkisah tentang Edwin yang diperankan oleh Morgan Oey sebagai seorang guru yang dikirim ke SMA Duri, sekolah untuk anak-anak bermasalah. Edwin ternyata tidak hanya sekadar menjadi guru di sekolah tersebut, ia juga memiliki misi pribadi yaitu mencari anak dari kakaknya yang hilang. Misi ini merupakan janji mati yang diikrarkan Edwin sebelum kakaknya meninggal dunia. Di sekolah tersebut, Edwin harus berhadapan dengan murid-murid paling beringas sambil mencari keponakannya. Ketika Edwin akhirnya menemukan keponakannya, semuanya berubah jadi mimpi buruk: kota luar dilanda kerusuhan brutal, sementara sekolah terkunci total dan berubah jadi medan perang antara para guru dan siswa yang agresif.

Pengepungan di Bukti Duri ini benar-benar menyajikan secara sempurna sekolah sebagai tempat untuk belajar menjadi arena medan perang yang brutal dan sadis. Sosok manusia di film ini digambarkan secara epik, terlihat dari bentrok batin hingga hilangnya kontrol akan sisi manusiawi dalam diri setiap manusia. Dunia yang terbangun juga membuat bulu kuduk sering kali berdiri karena melihat bagaimana tembok-tembok yang tercoret-coret dengan kata-kata kebencian, hingga emosi yang mendidih di setiap sudut ruang kelas yang tergambarkan dengan luar biasa.

Film ini akan terus membuat dada kita sesak ketika menontonnya. Karena film ini tidak hanya menyajikan aksi tembak-tembakan dan kejar-kejaran semata. Yang membuat film ini lebih sesak adalah konteks yang diangkatnya. Film ini mengangkat isu Mengangkat isu rasisme dan kekerasan nyata, suasana yang diangkat terkadang mirip dengan peristiwa sosial di masa lalu yang belum sembuh sebagai luka kolektif. Selain itu juga diangkat isu tentang sekolah sebagai metafora masyarakat, tempat yang seharusnya jadi ruang aman justru berubah jadi arena konflik antara hidup dan mati. Dan yang terakhir mengangkat isu sistem pendidikan yang dipertanyakan, film ini jadi refleksi atas kegagalan sistem dalam membentuk karakter generasi muda.

Joko anwar secara epik membangung distopia yang menyesakkan. Kita yang menonton akan diajak untuk terkurung di dalam sekolah bersama dengan tokoh-tokoh di film tersebut. Kita diajak untuk merasakan cekaman atmosfer di dalam sekolah tersebut. Beberapa angle shoot yang dinamis, pencahayaan yang redup nan temaram, serta suara-suara sirine, teriakan, hingga dentingan besi yang intens membuat ketegangan yang ditampilkan menjadi terasa nyata banget. Terlebih beberapa adegan digarap dengan detail yang bikin kita itu lupa kalau lagi nonton film Indonesia.

Pengepungan di Bukit Duri sangatlah sukses dalam menggabungkan thriller, aksi, dan kritik sosial dengan cara yang brutal tapi penting. Film ini akan membuat kita terjebak tegang, introspektif, bahkan mungkin terguncang oleh kenyataan soal keretakan sosial yang masih membayang di masyarakat. Tentunya film ini bukanlah film yang dinikmati secara santai, karena penampilan realitas pada film ini sangatlah terlihat nyata dan mencekam. Satu lagi, kita akan diberikan pe-er untuk berpikir, ‘Apakah Indonesia akan berada di tahap ini ke depannya?’

Exit mobile version