Civil War merupakan film yang dengan sempurna mempresentasikan sebuah distopia tentang potensi Amerika Serikat yang terpecah, memadukan elemen perang dan drama yang menggugah. Sebagian besar film distopia yang diproduksi Hollywood sering kali mencampurkan unsur fiksi ilmiah dan teknologi yang lebih maju dibandingkan dengan masa kini di dunia nyata. Potret kehidupan masyarakat pun sering kali dipotret dengan keadaan kacau balau dan penuh dengan kemiskinan. Inilah sempurnanya film Civil War, Alex Garland sukses membuktikan bahwa film bertema distopia itu ternyata bisa mengangkat konflik yang lebih realistis dan dekat dengan kehidupan nyata. Kondisi dunia dan teknologi yang diperlihatkan sepanjang film masih relevan dengan keadaan dunia saat ini.
Film ini makin lebih menarik karena pendekatan sudut pandangnya menggunakan lensa jurnalis fotografer. Film ini sukses memprovokasi siapapun yang menontonnya tentang gambaran masa depan atas kekacauan kekuasaan politik yang ambisius. Intensitas yang diciptakan dalam film ini begitu menyesakkan dada. Melalui sudut pandang jurnalis fotografer berpengalaman Lee Smith (diperankan oleh Kirsten Dunst) dan Joel (Wagner Moura) jurnalis penulis dari Reuters, penonton akan diberikan sudut pandang mengajak penonton untuk merasakan perang melalui lensa para jurnalis. Terlihat dengan jelas bagaimana tekanan emosional dan depresi yang dirasakan oleh para jurnalis saat mereka menjalankan tugas meliput perang yang dahsyat.
“Sekali saja kau bertanya tentang semua hal yang terjadi, kau tidak akan pernah berhenti. Jadi, tugas kita bukanlah bertanya. Kita hanya perlu merekamnya dalam bentuk apa pun dan biarkan orang lain yang bertanya-tanya.” Lee, 2024.
Hal menarik lainnya dalam film ini adalah film ini dikemas dengan konsep road trip yang dilakukan oleh para jurnalis dalam mengejar berita ekslusif yang mereka inginkan. Tidak hanya satu medan perang, penonton bahkan diajak untuk menyaksikan kekacauan beberapa medan perang sekaligus, ditambah dengan konflik internal yang terjadi di antara kelompok jurnalis perang yang kisahnya kita ikuti. Bahkan, ada satu momen yang mana para jurnalis terjebak dalam situasi bahaya yang benar-benar memacu adrenalin saat menontonnya.
“Setiap kali aku selamat dari zona perang, kupikir hal itu bisa menjadi peringat kepada banyak orang untuk “Jangan lakukan itu”. Namun, lagi-lagi kita ada di sini lagi.” Lee, 2024.
Garland sekali lagi sukses membuat para penonton berasumsi dan berimanjinasi atas segala informasi yang tidak dijelaskan secara akurat. Kita tidak akan benar-benar menemukan pihak mana yang terindentifikasi sebagai pihak baik atau jahat. Sehingga penokohan dan sudut pandang jurnalis menjadi krusial dalam kisah film ini.

