Site icon Floksis

Leadership

Manusia diciptakan dengan memiliki tanggung jawab besar untuk memimpin dirinya selama masa hidupnya. Mulai sejak memasuki usia pemberontakan pada usia remaja, manusia sudah sadar bahwa apa yang dilakukan olehnya, sebab dari semua prilakunya, semuanya merupakan konsekuensi hidup yang harus dipertanggung jawabkan. Berkembangnya usia manusia, manusia selalu berusaha untuk mengupgrade kapasitas dan kualitas dirinya. Manusia tidak dilahirkan untuk merasa puas akan suatu hal, ia akan mencari segala sesuatu untuk memuaskan dirinya. Menantang alam beserta hukumnya, menchallenge dan membuktikan bahwa mereka dapat menaklukkannya.

Begitu pula dengan memimpin, manusia tidak akan merasa puas hanya dengan memimpin dirinya sendiri. Ego terbesarnya akan mengatakan bahwa “aku berada di atas yang lain”. Karenanya, manusia akan mencari ladang yang dapat membuat egonya subur. Ketika posisi kepemimpinan iya dapatkan, manusia akan lebih banyak belajar bagaimana mengontrol dirinya. Pengontrolan diri inilah yang akan memiliki dampak signifikan dalam pola kepemimpinannya.

Selain sisi internal dari manusia itu sendiri, kepemimpinan juga dipengaruhi oleh dinamika di sekitar manusianya. Sehingga pola kepemimpinan akan menjadi sebuah seni abstrak yang tidak dapat dinilai dengan satu standar tertentu. Namun, dalam perkembangan zaman, pola-pola kepemimpinan dapat terlihat dan menjadi sebuah teori. Kepemimpinan yang sering terjadi di tengah umat manusia adalah kediktatoran. Dari rekam jejak zaman, kediktatoran sebuah pemimpin menajdi sebuah pilihan utama yang dipilih oleh manusia. Karenanya, manusia mampu mengontrol manusia lainnya dan mendapatkan segala sesuatu yang ia inginkan.

Berkembangnya zaman, pola kepemimpinan diktator menjadi sebuah pola yang peminatnya makin sedikit. Manusia yang menjunjung nilai-nilai kesetaraan membuat sebuah pola kepemimpinan baru yang menjadikan semua manusia itu setara, yaitu kepemimpinan demokratis. Sayangnya, walaupun pola kepemimpinan yang dipilih bersama ini, manusia tetaplah manusia yang selalu ingin berada di atas manusia lainnya. Sehingga, walaupun kesetaraan ini menjadi sebuah motto, motto ini akan menguap dan mejadi sebuah janji-janji semu. Kediktatoran akan tetap ada, hidup di dalam diri manusia dan terselimuti oleh segala bentuk

Jika ego manusia yang seperti itu masih tetap tumbuh. Manusia akan selalu menggunakan otoritas kepemimpinannya untuk meminta penghormatan dari orang lain, minta di-aku-kan oleh orang lain, hingga berbuat semena-mena kepada orang lain. Jika pola ini terus tumbuh pada diri manusia, maka segala bentuk standar kebenaran hanya miliknya semata, hal ini bisa disebut dengan kebenaran semu.

Kebenaran semu ini akan berlawanan dengan kebenaran hakiki atau kebenaran bersama. Sehingga, segala sesuatu yang disebut kebenaran hakiki, atau kebenaran bersama ini tidak akan mempan menghadapi kebenaran semu tersebut. Bahkan kebenaran hakiki tersebut akan diberantas dan dianggap sebagai tipu muslihat oleh manusia yang memilikis tandar kebenaran semu.

Namun, di dunia ini kita juga masih menemukan pola kepemimpinan yang sangat adil. Dimana seorang pemimpin menggunakan kekuasaannya untuk mengarahkan, membimbing, menentukan mana yang baik dan buruk, dan juga merangkul manusia lainnya. Jika seluruh manusia menggunakan filosofi kepemimpinan seperti ini, kita akan menemukan dunia yang begitu damai dan sejahtera. Agar hal itu terwujud, manusia harus belajar dan terus belajar untuk mengontrol egonya dan menghargai manusia lainnya.

Exit mobile version